Inspiring Generations

Bung Karno Bawakan Oleh-oleh Satu Set Perhiasan Bermata Pirus Buat Heldy

Bung Karno Bawakan Oleh-oleh Satu Set Perhiasan Bermata Pirus Buat Heldy
Heldy Djafar, mantan istri Bung Karno.

Mengapa pidato itu disebut Bung karno sebagai pertanggungjawaban secara sukarela? Alasannya,  pertanggungjawaban tersebut diberikan bukan atas permintaan MPRS.

Dalam mempersiapkan pidato Nawaksara, Bung Karno, bisa berjam-jam di dalam kamar. Sebelum ia menulis, Bung Karno lebih dulu mencari bahan-bahan dan saran-saran tertulis dari berbagai pihak. 

Tatkala Bung Karno sedang mempersiapkan naskah pidato Nawaksara di Wisma Negara, Heldy menyaksikan suaminya sedang berpikir keras untuk menuangkan buah pikirannya ke dalam lembaran-lembaran kertas. 

Tanggal 22 Juni 1966, Bung Karno berbicara di depan Sidang MPRS IV. Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap sebagai pemimpin besar revolusi Indonesia, sesuai dengan ketetapan MPRS No I/1960.

***
17 AGUSTUS 1966, kemerdekaan Republik Indonesia genap berusia 21 tahun. Bung Karno lagi-lagi membacakan pidatonya di Istana Merdeka. Pidato kali ini sangat monumental. Judul pidatonya, 'Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! (never leave history).

"Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata: 'One cannot escape history'. Orang tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah never leave history! Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah! Hai bangsaku... karena jikalau engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas negkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu paling hanya akan berupa amuk-amuk belaka! Seperti kejepit di dalam gelap!"

Leave a Comment